~: Kebahagiaan & Kesengsaraan

oleh Anef Cinta

~: Kebahagiaan & Kesengsaraan
~: Masalah kebahagiaan(sa'adah) dan kesengsaraan(syaqawah)
adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. Sebab tujuan
hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan
menghindari kesengsaraan. Semua ajaran, baik yang bersifat
keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti
Marxisme, misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para
pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan
kesengsaraan. Gambaran tentangwujud kebahagiaan atau
kesengsaraan itu sangat beranekaragam. Namun semua ajaran dan
ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang
dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah
jenis yang paling sejati dan abadi.Meskipun ilustrasi tentang
surga dan neraka itu berbeda-beda –dalam banyak hal perbedaan
itu sangat radikal dan prinsipil– namun semuanya menunjukkan
adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan
atau kesengsaraan dalam hidup manusia.
Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia
ini saja seperti dalam Marxisme, atau di akhirat saja seperti
dalam agama-agama other-wordly, atau di dunia dan akhirat
seperti dalam Islam. Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak
ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan
kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya
manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy
penyandang syaqawah, yakni, kesengsaraan) dan yang bahagia
(sa'id, penyandang sa'adah, yakni kebahagiaan). Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak
ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan
kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya
manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy
penyandang syaqawah, yakni, kesengsaraan) dan yang bahagia
(sa'id, penyandang sa'adah, yakni kebahagiaan). Al-Qur'an
melukiskan keadaan itu demikian,
Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba, maka tiada seorang pun akan
berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi
menjadi dua; yang sengsara dan yang bahagia.
(QS. Hud/11:105-108)
Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan
ini dalam Islam, patut kita bahas secara sungguh-sungguh,
disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci
yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu.
Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu,
yaitu, apakah berupa pengalaman kerohanian semata, atau
pengalaman jasmani semata, ataukah pengalaman rohani dan
jasmani sekaligus, merupakan bagian dari dialog Islam sejak
masa klasik.
Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan
dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi).
MASALAH INTERPRETASI
Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan
kesengsaraan dunia-akhirat itu, mereka tetap berselisih
tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi
Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran
atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan
kesengsaraan, baik dari al-Qur'an maupun Sunnnah, khususnya
keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu
perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara
harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis
(ta'wil)
Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah,
pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung
bersifat fisik. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan
tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan
tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba
fisik. Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh, yang
dikaitkan dengan "kebijaksanaan" Tuhan sebagai yang Maha
Kasih-Sayang dan Maha Adil, maka pelukisan kebahagiaan dan
kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang
wujudi atau eksistensial, dan harus dipahami dalam konteks
adres pembicaraan (al-mukhathab). Ibn Rusyd mengaitkan perkara
ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi
dan rendah, yang melahirkan piramida eksistensial, manusia
dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus, the
specials) menempati puncak piramida itu, dan kaum awam
(al-awam orang-orang umum atau kebanyakan, the commons)
menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. Karena
itu, dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim,
pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab
Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik, karena memang
pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan
dipahami umum. Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta
berbuat baik, maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan
kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam. Mereka
ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa
adanya, sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong
mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat.
Ditulis Oleh: Anef Cinta
~: myspace.com/anefcinta
Kategori: tips cinta,
~:

Visitor Ip: 202.3.213.130

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: