~: Cinta adalah cahaya (mahabbatullah)

oleh Anef Cinta

~: Cinta adalah cahaya (mahabbatullah)
~: Cinta
adalah nutrisi hati, pelepas dahaga jiwa, penyejuk mata, kebahagiaan
jiwa, cahaya akal, penyegar batin, puncak cita-cita dan harapan paling
mulia. Kehidupan tanpa Cinta adalah kematian. Cinta adalah cahaya, yang
tanpanya seseorang bisa tersesat dalam lautan kegelapan. Cinta adalah
obat penawar yang tanpanya seseorang akan diserang oleh berbagai macam
penyakit. Cinta adalah kelezatan, yang tanpanya kehidupan seseorang
akan dicekam oleh kerisauan dan penderitaan.
Bila
napas kehidupan bisa berdenyut karena dilandasi oleh sebuah cinta, maka
cinta hamba terhadap Allah merupakan nutrisi yang memberikan suntikan
kekuatan tak terperi bagi seorang Mukmin, yang membuatnya bertahan
dalam menghadapi gempuran zaman yang tiada henti melibasnya. Cinta
inilah yang terus memompakan rasa optimisme yang besar pada sang Mukmin
sehingga ia berhak meraih karunia Ilahi yang paling agung, yaitu cinta
Allah ( mahabbatullah ).
Namun
seorang hamba yang ingin dicintai oleh Allah tentu saja tidak tinggal
diam dan menunggu saja anugerah dari langit. Tidak, sebaliknya ia harus
proaktif memburu anugerah itu, yakni dengan berusaha untuk
mencintai-Nya lebih dulu.
Mencintai Allah
ini juga bukan sekadar menjadi klaim belaka yang hanya menjadi pemanis
bibir, namun harus ada usaha kongkret yang mencerminkan keinginan agung
itu. Seorang hamba yang benar-benar cinta kepada Allah ini bisa
dicirikan dalam hal-hal berikut; dia menginginkan pertemuan dengan
Allah di sorga, karena hati yang mencintai Sang Kekasih pasti ingin
menyaksikan dan berjumpa dengan-Nya.
Ciri
lainnya dari seorang hamba yang mencintai Allah adalah merasa nikmat
dalam berkhalwat, bermunajat kepada Allah dan membaca al-Qur '' an.
Sabar terhadap hal-hal yang tidak disukai, mengutamakan Allah atas
segala sesuatu, mendahulukan apa yang dicintai Allah atas apa yang
dicintainya, baik lahir maupun batin. Selalu mengingat Allah, cemburu
karena Allah, dan senang terhadap segala sesuatu yang menimpa dirinya
dalam perjalanan menuju Kekasihnya. Mencintai kalam Allah, tobat yang
dibarengi dengan khuaf (cemas) dan raja '' (harap). Menyesal, jika lupa mengingat Allah, lemah lembut kepada hamba Allah dan tegas kepada musuh-Nya.
Itulah
ciri-ciri dari seorang hamba yang mencintai Allah. Kalau sudah ada
usaha maksimal dari sang hamba untuk mencintai-Nya dengan mempraktikkan
hal-hal di atas, maka ia punya harapan besar untuk meraih mahabbatullah
(dicintai Allah), yang ditandai dengan adanya perlindungan dari dunia,
pemeliharaan yang baik, dikaruniai sifat lemah lembut, diterima
penduduk bumi, mendapat cobaan, dan mati dalam keadaan melakukan amal
shalih.
Dalam hal ini, Nabi saw. bersabda:
" Jika Allah mencitai seorang hamba, maka ia akan memaduinya. " Sahabat
bertanya tentang ' memadui '' itu, dan Nabi menjawab, " Diberi taufiq
untuk beramal shalih saat ajalnya, sehingga ia disenangi tetangga dan
orang sekitarnya " (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim).
Buku
ini memang sangat bagus sekali dibaca oleh orang yang mendambakan cinta
sejati, yang terikat dengan jalinan cinta bersama Rabb-nya, karena buku
ini juga mengurai tentang serangkaian amal yang bisa mendatangkan mahabbatullah. Semisal membaca al-Qur '' an sambil mentadabburi dan memahami maknanya, taqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah dengan ibadah sunnah, setelah ibadah
wajib. Selalu mengingat Allah di setiap saat, baik dengan lisan, hati,
amal, atau keadaan. Mengutamakan ( itsar ) Kekasih di atas keinginan pribadi dan berusaha menggapai cinta-Nya.
Selain
itu, menyaksikan berbagai macam kebaikan, karunia dan nikmat-Nya, baik
zhahir maupun batin. Pengenalan dan penyaksian hati akan nama-nama dan
sifat-sifat Allah, remuk redam hati di hadapan Allah, berkhalwat
dengan-Nya pada saat nuzul ilahi (turunnya Allah) di tengah
malam. Nabi bersabda: " Rabb kita (Allah SWT.) turun ke langit dunia
tiap malam, hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Kemudian Dia
berfirman: siapa yang berdoa kepada-Ku akan Ku-kabulkan, siapa yang
meminta kepada-Ku akan Ku-beri, dan siapa yang memohon ampunan akan
Ku-ampuni " (HR. Malik, dan lainnya).
Juga
duduk-duduk dan bergaul dengan para pencinta Allah yang sejati,
menjauhi segala hal yang bisa menghalangi hati dari Allah, mengikuti
Nabi saw. dalam perbuatan, ucapan, dan akhlaknya, dan zuhud terhadap
dunia.
Menurut penulis, ada tiga formula yang bisa membantu tumbuhnya sikap zuhud ini. Pertama, kesadaran hamba bahwa dunia hanyalah naungan sementara, sekadar angan yang datang bertamu. Kedua, kesadaran hamba bahwa di balik dunia, ada yang lebih besar, lebih mulia dan lebih penting, yaitu kampung keabadian akhirat. Ketiga,
kesadaran hamba bahwa sikap zuhud terhadap dunia tidak akan menghalangi
apa yang telah ditakdirkan. Demikian pula ambisinya terhadap dunia
tidak akan mampu mendatangkan sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya.
Bila hal ini telah diyakini sepenuhnya hingga sampai pada tingkat ilmul-yaqin, maka ia akan mudah bersikap zuhud terhadap dunia.
Ditulis Oleh: Anef Cinta
~: anef.jw.lt
Kategori: tentang cinta,
~: Dont forget add to bookmark and share this: www.ae.nu.mu

Visitor Ip: 202.3.213.130

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: