Have fun, love!

oleh Anef Cinta

anef cinta Resti RahmawatiWalau sudah pernah jatuh cinta, belum tentu kita bisa menjelaskan “cinta” dengan baik. Tiap orang memang punya penghayatan yang berbeda-beda. Tapi, tahu enggak, mengenali “cinta” adalah salah satu cara untuk mengenali diri?
Waktu perkenalan kita dengan cinta ketika kita deg-degan saat bertemu seorang cowok/cewek. Lalu, pada saat kita bersedia mengorbankan kepentingan diri untuk kepentingan si cowok/cewek itu, cinta mulai berperan.
Cinta dapat membuat orang menjadi bijak, arif, dan progresif, namun sebaliknya juga bisa membuat orang linglung, menderita, atau sedih berkepanjangan. Semuanya sangat tergantung penghayatan seseorang terhadap pengalaman cintanya.
Seorang psikolog, Kelley, membagi cinta menjadi tiga yaitu:

  • Cinta karena nafsu. Cinta jenis ini cenderung tak terkontrol karena hubungan antara dua orang yang atas nama cinta ini dikuasai oleh emosi yang berlebihan. Di sini istilah cinta buta berlaku.
  • Cinta pragmatis. Pada cinta jenis ini ada keseimbangan antara rasa suka dan duka, atau ada hubungan timbal balik. Sepasang insan ini cenderung dapat mengontrol perasaannya.
  • Cinta altruistik. Nah cinta yang ini biasanya dimiliki oleh ibu untuk anaknya. Biasanya disertai kasih sayang tak terbatas.

Cinta yang asyik itu kalau emosi dan rasio kita “berteman”. Memang, sih, untuk bisa sampai ke sana tidak mudah. Tapi, sebenarnya seperti apa sih cinta emosional itu? Ini, nih, ciri-cirinya:

  • Adanya perasaan yang kuat atau terus-menerus (biasanya) kepada lawan jenis. Perasaan ini begitu kuatnya sehingga waktu dan energi habis-habisan dicurahkan untuk memikirkan si pacar.
  • Adanya egoisme. Kita begitu menggebu, perasaan begitu senang, bahagia, karena melihat sang kekasih begitu sempurna. Pas dengan bayangan kita. Jadi, kita mencintainya karena dia bisa memenuhi kebutuhan kita. Dia bisa bak putri atau pangeran dalam imajinasi kita. Dengan demikian, cinta itu mudah luntur ketika si pacar bertindak atau bersikap yang tak sesuai dengan tipe ideal kita.
    Cinta emosional ini kadang juga disebut “cinta romantis”, cinta yang bak dongeng. “Musuh” dari cinta emosional ini adalah rutinitas. Aktivitas yang itu-itu lagi membuat cinta dongeng itu melempem karena bosan atau jenuh. Selain itu, cinta emosional juga mengandung unsur erotik (berasal dari kata “eros” yang berarti dorongan seksual). Biasanya, sih, cinta model begini dianggap tidak “mantap” jika dijalani tanpa sentuhan fisik.

Nah, cinta yang asyik akan muncul bila kadar emosi itu “ditemani” oleh cinta rasional. Akal pikiran atau rasio jadi ciri cinta jenis ini. Dahsyatnya, orang yang punya cinta rasional tak mementingkan cintanya terbalas atau tidak karena yang lebih penting adalah memberi tanpa syarat/pamrih.
Menurut Erich Fromm, seorang psikoanalis amrik, cinta hanyalah memberi. Memberi adalah ungkapan kemampuan atau potensi yang paling tinggi. Dengan melihat orang yang dicintai bahagia tumbuh dan berkembang secara fisik, psikis dan spiritual, maka kita pun akan bahagia. Bahagia semacam ini muncul karena kita merasa mampu dan berarti bagi orang lain. Menurut Fromm, cinta yang berprinsip take and give bukanlah cinta sejati, tetapi cinta dagang.
Pengorbanan waktu dan energi menjadi ciri cinta rasional. Fromm menjelaskan bahwa ada beberapa unsur cinta:

  • Care/peduli, kalau kita mencintai seseorang, kita harus menaruh perhatian serius pada kebahagiaan dan perkembangan pribadinya.
  • Bertanggung jawab. Artinya, siap memenuhi kebutuhan psikis orang yang dicintai dan membuatnya bahagia.
  • Respect/hormat. Maksudnya, kita mampu memandang dan menerima orang yang kita cintai dengan apa adanya. Paket lengkap: kebaikan maupun keburukannya. Kebanyakan orang beranggapan bahwa mencintai seseorang berarti meminta orang itu memiliki kepribadian dan perilaku seperti yang kita inginkan dan menuruti segala keinginan kita. Hubungan cinta yang ideal itu tidak saling bergantung dan tidak saling mengeksploitasi. Masing-masing mandiri, namun pada saat yang sama dapat saling memberi, saling mendukung, dan saling memperkembangkan.

Tanda-tanda cinta
Cinta merupakan hal yang sangat subyektif, satu orang dengan orang lainnya akan memaknai secara berbeda. Namun, ada tanda-tanda umum yang menunjukkan adanya perasaan cinta:

  • Ada unsur ketertarikan atau kekaguman. Biasanya cinta didahului rasa ketertarikan dan kekaguman, baik itu karena tampilan fisik, karakter, sifat, kemampuan, dan hal-hal yang bersifat materi. Tiap orang juga punya daya tarik yang berbeda.
  • Selalu teringat pada orang yang dicintainya, baik fisik, tingkah laku, maupun interaksi yang pernah terjadi.
  • Adanya pengorbanan. Perasaan cinta menimbulkan perasaan ingin berbuat apa saja yang dapat menyenangkan atau membahagiakan orang yang kita cintai. Tapi, perlu diingat bahwa pengorbanan tidak berarti “penyerahan diri” (merendahkan diri, mengabdi, merelakan diri untuk diperlakukan apa pun).
  • Ada ketertarikan seksual. Ketertarikan seksual ini diwujudkan dalam bentuk keinginan untuk dekat secara fisik, muncul perasaan rindu, keinginan untuk disentuh, dibelai, dicium, dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: