Pasrah, menjalani cinta segitiga yang indah

oleh Anef Cinta

anef cinta Nita
Jika cinta memanggilmu, pasrahlah. Total bagai sebuah biola yang bisa digesek-gesek sesukanya. Kalau tidak bisa sepasrah biola, maka egomu yang paling akhir menjadi penghalang terhadap Tuhanmu.
Itu adalah salah satu syair sufi yang sangat indah, yang menggambarkan betapa indah sebuah agama dalam mainstream cinta. Penuh kepasrahan yang setiap saat bisa memanggil-manggil manusia yang mau dan mulai melepas egonya secara fisik & non fisik.
Pasrah itu dalam bahasa Arabnya adalah Islam. Artinya seseorang yang beragama Islam ia sudah di masukkan ke dalam tungku untuk membentuk totalitas kepasrahan yang hanya di tujukan kepada Allah SWT dan mengakui Muhammad SAW adalah utusanNya.
Proses totalitas tersebut bisa di ibaratkan seperti menjadikan padi menjadi nasi. Ia ditumbuk dalam berbagai cara, tapi tumbukkan itu bukan untuk menghancurkan padi, tapi untuk menghilangkan kulit ari yang berupa madlmumah dalam hati. Setelah menjadi beras ia akan di bakar untuk menjadi nasi. Pada tahap inilah godaan (setan) yang akan menjadi penghalang terakhir, apakah ia akan matang atau gosong. Proses dari padi menjadi nasi ini adalah ibarat dari perjalanan hidup anak manusia. Untuk menjadi matang, manusia memerlukan sebuah totalitas. Ia adalah cinta. Karena hanya dengan cintalah sebuah kepasarahan akan total terbentuk tanpa memikirkan bagaimana proses cinta itu berakar dan menjadi tidak terasa.
Maka produk dari karakter pasrah (Islam) itu adalah indah, terus mekar, mengalir dan terus berproduksi. Hasilnya Islam sebagai agama cinta, penganutnya punya karakter give & give, cinta damai, santun, tidak suka marah pada kelompok yang punya keyakinan beda dan mengajak pada kebaikan.
Salah satu produk kepasrahan (Islam) yang berakar dari cinta adalah keikhlasan. Ikhlas itu ibarat pohon yang mengekspresikan kecintaanya kepada Tuhan dengan terus memproduksi buah. Seperti juga gandum yang dibersihkan kulitnya, ditumbuk menjadi tepung lalu diadoni dan di masak menjadi roti. Gandum tidak berpikir untuk siapa roti itu dipersembahkan, tapi gandum tetap saja mau menjalani semua proses untuk menjadi sebuah roti.
Ikhlas sebagai wujud kepasrahan total, perilakunya give & give. Karena itu wujud dari keikhlasan adalah kebahagiaan. Dan kebahagiaan yang paling besar adalah yang di rasakan oleh orang yang merasa bahagia saat memberi bukan saat menerima.
Seperti Kanjeng Rasulullah SAW. Meski sosok beliau sudah diberi keistimewaan olah Tuhan, ia tetap menjalani hidupnya secara pasrah dan total kepada penciptanya.
Maka dalam perjalanan cinta segitiga ini, para ahli sufi berkata: pasrahlah pada penciptamu dan cintailah sosok yang bibirnya telah membawa pesan-pesan Tuhanmu. Karena dalam kepasrahan (Islam), manusia bisa berbuat apa saja dalam bingkai Allah SWT, Muhammad SAW dan manusia sendiri.

2 Komentar to “Pasrah, menjalani cinta segitiga yang indah”

  1. apa kn bnr bgtu bagi yg mjlkn cinta segi tiga

  2. trimakasih, tlah mengjarkanku untk bagaimana untk menjalani semua itu dan aku akan melakukan yg trbaik semampuku krana ini adalah pilihan yg trbaik yg prnah aku pili meskipun akhirnya pahit namun itu lah arti dari sebuh pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: