Entah dimana…

oleh Anef Cinta

anef cinta Langit seakan menyerpih menjadi buliran-buliran bening yang segar Melihatkah engkau hal yang sama? Aroma tanah menyeruak lembut membelai udara yang terhirup tubuh Menciumkah engkau baunya? Entah berada dimana dirinya Tak tampak pandang walau hati terus mengenang jauh mungkin ia dari sini tapi risau selalu tertinggal dalam diri Rasa ini, cinta ini, rindu ini mengapa terus mengepung hati dan kepala Ingin dibuang jauh jauh dari tempatnya, tapi hati tak kuasa Terus mengiba pada Tuhannya bertemu dengannya menahan dan terus tertahan tak ada yang bisa membawa berjumpa alangkah gembira balon di tangan menatap kelebat dirinya dalam keheningan mencipta sekulum senyum indah tak terperikan harapan ia membalas pandangan menghembus perlahan dalam badan oh, Tuhan betapa indah kau ciptakan dunia beserta isinya dan jantungpun berdegup-degup tak biasanya langkahnya, alunan lengannya, dan kharismanya membelenggu jiwa ini hingga tak bisa berlari menghambat otak jadi tak kreatif lalu ia mendekat, mulut tetap kerkatup diam ia tawarkan sebuah sapa menggetarkan hanya 5 huruf sekulum senyum dibalaskan atasnya berlalulah ia menyongsong suatu yang lainnya langkahnya, alunan lengannya, dan kharismanya masih tersasar dalam sepetak kecil sanubari meninggalkan sesal menyakitkan tanpa sejenakpun saling melepas kata Cinta mengendap dan sering mengaburkan pandang menggelapkan hati, dan mencacah dada.. sesal tertinggal berkawan dengan cinta untuknya maka lahirlah seorang pesimistis mengambil alih kuasa, dan meniup-niupkan hawa negatif memerintah kemunduran, kemudian mendahului wewenang Tuhan bahwa jodoh, mati, dan rejeki itu prerogatif penguasa manusia secercah cahaya baik hati yang tinggal jauh di dalam hati tak kuasa menahan siksaan pesimisme muncullah ia ke permukaan menebar keadilan bahwa masihlah ada kemungkinan dirinya berbaur dalam cinta yang suci bahwa jodoh, mati dan rejeki itu adalah hak prerogatif-Nya Dan cinta pun menggeliat bangkit di tengah malam bercengkrama dengan bulir-bulir air, memanjatkan titian iba dan pinta, merayakan lepasnya dari jerat lekat seorang pesimis dalam dua yang ringan, tersebut namanya dalam romansa dengan sang pencipta, Oh Tuhan, bolehkah aku menjadi miliknya? Aku sangat mencintainya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: